Simpul Takdir Galaksi
Di kanvas bercorak hitam legam, penuh dengan debu cat mengelok Andromeda murni.
Antara malam berbisu bersama samudra langit, membelah sunyi kerinduan abadi.
Keindahan meregang bagai simfoni rasi, menghirup energi damai yang kelabu.
Lambang dualitas menderu badai kosmik, bak pendar ekornya merajut kelembutan luka.
Meski semesta mengutuk mereka menjadi sepasang kekasih penguasa jutaan galaksi.
Memberi secercah harapan di bentang kekacauan yang memburu.
Tertelan melodi kegelapan nan menyisakan jejak rangkak penuh ragu.
Tanda kederajatan tinggi menghibur seonggok jiwa dalam sapuan kemustahilan.
Padamkan ceceran cahaya biru hingga detak jam memutuskan henti.
Penobatan ditiadakan mengiris sisa misi panglima dalam tanda ampas kematian.
Di setiap gerak yang terlukis kesetiaan pada berbagai orbit takdir.
Memecahkan ukiran kuas, namun teralih getaran beku pembuluh darah.
Kesesakan dalam dada tak kunjung memudar, meraungkan jeritan terhisapnya raga.
"Aku, Kau, adalah Kita.."
Pertemuan tlah dinantikan, menjadi kenyataan kini mendarah daging.
—Faira Elsa
Comments
Post a Comment