Sayap Putih
Debur ombak kain terseret, diiringi bait gemerincing liontin yang membisik indra.
Merpati mengepakkan sayap, terhunus anggun bak siluet sutra.
Sepasang sepatu terlilit kaca, menginjakkan puing jiwa di atas marga kesucian.
Nampak Samudera Pasifik mengapit iris mata, bertentangan sayup redup rusa betina.
Alamiah air terjun mendobrak imajinasi, menjerat pola seutas benang telepati.
Sinar mentari kian tertanam di sudut, menyuarakkan partikel ngengat untuk Dewa Api.
"la hidup."
Melompati melodi transparan, meliuk lekuk bagai angsa putih.
Aroma tanah berembun sambung kisah kepemilikan Kerajaan Utara.
Halus tak terjamah seperti kepompong kecil terperangkap jerusi besi.
Mawar menguap menghujani bumi, timpakan raup raga dalam delusi.
Di ujung bayang, tuntutan tengah berjuang menggerogoti insan.
Kemustahilan tak tercantum bisikan dalam dongeng usang.
Riuh alam seolah meniupkan raya kedatangannya.
—Faira Elsa
Comments
Post a Comment