Pena Emas
Dalam hal wujud karang yang kokoh terjangan ombak, terlihat menawan tapi ialah pahlawan.
Hembusan angin yang memeluk bumi, atau redupnya cahaya api lilin.
Sedikit ilmu yang tersalur, seperti potongan berlian menyilaukan diri.
Perihal bait frasa yang tertoreh pena, kan kutemui aksa yang terabadi dengan sepenggal nyawa.
Nasehatmu melantunkan berjuta makna yang tersirat dalam fatamorgana.
Teruntuk jiwa yang sendahnya memantik iri gemintang di langit sana.
Oh, guruku..
Tak pantas bagimu tuk menerima pemberian mawar layu dariku.
Berulang kali memori pengetahuan kuputarkan pada ayunya rona yang merekah.
Ilusi debu melekat di buku tanpa perlu kuambil darinya secorak lengkara yang fana.
Bukti alam semesta ini menyayangimu, bak damba seorang seniman terhadap kanvasnya.
Kini, Surya tengah berpaling dari samudera, menenggelamkan lembayung ke ufuk buana.
Tandangnya sporadis sebagai sifat, tiada meleburkan keberadaannya.
Hadirmu menjadikan sebuah kuas dalam menorehkan ragam warna.
Comments
Post a Comment