Ibu

Ketika gemerlapnya malam purnama bersinar terang, di situ lah rengekan manja kian menyapu udara.

Aku menyusuri lorong keabadian, mengalun merdu butiran debu yang menerpa.

Tangan yang halus membelai surai, kurasakan lembutnya kasih sayang.

Wahai semesta yang terlumuri doa, kupejamkan mata dalam kata yang akan menjadi aksara.

Gumpalan awan hitam, meneteskan hujan dan segala kesempurnaan rindu.

Kurasakan sekumpulan elegi, yang akan selalu menyatu dengan waktu.

Ibu..

Takkan ada frasa yang layak untuk ditorehkan.

Takkan ada pengorbanan yang layak untuk dibalaskan.

Takkan ada cinta yang layak ku persembahkan.

Takkan ada kelayakan jiwa ini yang pantas untukmu.

Takkan ada pelita yang layak tergantikan olehmu.

Ibuku sayang..

Prosa yang mati, tiadakan hidup kembali tanpa pilu tangis.

Angka-angka berwarna, memulai kehidupan kecil selanjutnya.

Ku pungut satu-persatu jutaan ilmu yang engkau ajarkan.

Biarlah ombak Pasifik menyeruak, menuliskan pengharapan pada hati.

Kujadikan tinta hitam sebagai saksi bisu untuk segala kenangan hidup yang terambang gelak tawa ini.


— Faira Elsa

Comments

Pilihan 💐